Sabtu, 21 Oktober 2017 - 31 Muharram 1439 H

Mempersiapkan 1.000 Hari Pertama Kehidupan Lewat ASI

Peserta kelas edukasi ASI AIMI Sumbar sedang menyimak pemaparan materi dari pembicara (istimewa)
Padang, (Antara Sumbar) - Lima pasangan muda terlihat serius menyimak pemaparan yang disampaikan konselor Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Sumatera Barat. Sesekali mereka menimpali langsung pembicaraan konselor untuk bertanya.

"Bagaimana kalau seandainya air susu saya sedikit keluar saat pertama kali melahirkan, sementara bayi terus menangis," tanya seorang peserta.

Dengan gamblang konselor yang telah mengikuti pelatihan 40 jam versi badan kesehatan dunia WHO itu menjelaskan apa yang harus dilakukan.

"Bunda tidak perlu cemas ukuran lambung bayi yang baru lahir hanya sebesar kelereng, jadi dapat dipastikan pada hari-hari pertama akan cukup," jawabnya.

Pada kelas edukasi ASI yang digelar AIMI Sumbar tersebut dijelaskan berbagai materi seputar ASI mulai dari inisiasi menyusu dini, manfaat ASI dan risiko susu formula, peraturan undang-undang seputar ASI dan menyusui, hari pertama kelahiran bayi hingga kunci keberhasilan menyusui.

Ketua AIMI Sumbar Ria Oktorina menjelaskan kelas edukasi ASI diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan para calon ibu agar memiliki pengetahuan seputar ASI.

Menurutnya dari berbagai data yang dihimpun kesempatan menyusui dalam satu jam pertama setelah kelahiran dapat mencegah 22 persen kematian bayi baru lahir.

"ASI sejak hari pertama kelahiran dapat mencegah 16 persen kematian bayi baru lahir," lanjutnya.

Sejak dikukuhkan secara resmi pada Juni 2015 AIMI selaku organisasi nirlaba fokus mengampanyekan pentingnya pemberian ASI.

Ria mengatakan pihaknya terus mendorong para ibu untuk memberikan ASI kepada bayi melalui edukasi hingga kampanye aturan hukum tentan pemberian ASI.

"Kami ingin anak Indonesia jadi generasi yang berprestasi untuk itu kembali kepada fitrah yaitu memberikan ASI," kata dia.

Meskipun bergerak dengan keterbatasan tidak membuat AIMI Sumbar surut dan terus giat melakukan edukasi baik secara langsung, kunjungan ke sejumlah institusi hingga kampanye di media.

Menurut dia gencarnya promosi susu formula di media massa hingga tempat umum menyebabkan banyak yang tidak tahu ASI adalah hak bayi dan menyusui adalah hak ibu.

Alumni Universitas Erasmus Rotterdam Belanda itu menerangkan berdasarkan penelitian semua ibu yang melahirkan dikodratkan bisa menyusui dan hanya satu dari 1.000 ibu yang tidak bisa karena ada indikasi medis.

Namun, banyak yang tidak tahu serta tidak mendapatkan dukungan dari orang terdekat sehingga pesimistis untuk menyusui bayi setelah melahirkan, paparnya.

"Fitrah ibu adalah menyusui tetapi karena maraknya iklan susu formula membuat banyak ibu yang menganggap ASI dapat digantikan dengan susu formula," ucapnya.

Padahal, lanjut dia, ASI dibandingkan dengan susu formula itu jauh lebih baik dan belum ada produsen yang bisa menciptakan susu formula dengan kandungan dan nilai gizi yang setara dengan ASI.

"Kami tidak memusuhi dan memerangi susu formula hanya saja pemberiannya sebaiknya harus melalui dokter karena ada indikasi medis pada bayi, atau saat besar," tegas dia.

Keajaiban ASI

Sementara dokter spesialis anak dr Utami Roesli Sp.A mengungkapkan dalam Air Susu Ibu (ASI) terkandung sejumlah keajaiban mulai dari terdapatnya zat anti kanker, pencegah risiko alergi pada bayi hingga manfaatnya yang dapat menurunkan angka kematian pada bayi.

Berdasarkan hasil temuan dalam ASI terdapat zat anti kanker yang dapat memperkuat kekebalan tubuh bayi secara alami serta a zat yang dapat membunuh 40 sel tumor yang berbeda berdasarkan publikasi Jurnal Internasional tentang kanker," kata dia.

Menurutnya selain melindungi bayi pemberian ASI oleh ibu juga akan menurunkan risiko terkena kanker payudara bagi ibu.

"Pada ibu yang menyusui risiko terkena kanker payudara turun enam persen setiap tahun," katanya.

Kemudian pada bayi yang diberikan ASI ekslusif akan menurunkan risiko terkena obesitas dan gangguan penyakit lainya.

Ia memastikan bayi yang disusui akan lebih sehat sepanjang hidupnya dan jarang mengalami gangguan perilaku baik emosional maupun psikologis.

Menyusui juga akan mendekatkan hubungan ibu dan anak secara emosional, meningkatkan produksi hormon cinta dan memperkuat kekebalan tubuh anak, kata dia.

Pendiri Sentra Laktasi Indonesia itu mengemukakan pemberian ASI oleh ibu juga membantu menurunkan angka kemiskinan khususnya bagi keluarga yang kurang mampu.

"Berdasarkan penghitungan jika ada ibu yang memberikan susu formula standar kepada bayi maka dalam sebulan harus mengeluarkan biaya minimal Rp500 ribu hingga Rp600 ribu, ini tentu memberatkan apalagi bagi yang kurang mampu," katanya.

Ia menghitung jumlah yang dikeluarkan untuk membeli susu tersebut akan menyita pengeluaran rumah tangga apalagi bagi keluarga yang penghasilannya masih di bawah Rp1 juta.

"Oleh sebab itu akan lebih baik jika ibu langsung memberikan ASI sehingga tidak perlu keluar uang membeli susu, pengeluaran dapat dihemat dan uangnya dipakai untuk kebutuhan lain,"ujarnya.

Ia mengatakan jika yang diberikan kepada bayi adalah susu formula premium maka tidak kurang dari Rp2 juta harus dikeluarkan setiap bulan.

Utami menghitung total biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk membeli susu formula untuk anak usia hingga enam bulan mencapai Rp9,8 juta.

Hingga anak usia satu tahun pengeluan beli susu formula akan mencapai Rp20,4 juta, sampai dua tahun akan keluar uang Rp43 juta hingga Rp134, 4 juta, sebutnya

Peran Keluarga

Musfi Yendra salah seorang peserta kelas edukasi ASI yang diselenggarakan AIMI Sumbar sengaja meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan tersebut bersama pasangan agar bisa memberikan ASI ekslusif bagi buah hati.

"Memberikan ASI adalah salah satu cara saya dan istri menyiapkan anak yang sehat dan berkualitas," ujarnya.

Ia baru memahami ternyata ilmu tentang ASI amat luas bukan semata soal menyusui hingga menolak susu formula.

"Bagi sebagian orang apalagi bapak-bapak mungkin tabu membahas soal menyusui, padahal jika tidak paham soal ini rasanya rugi sekali," ujarnya.

Setelah mengikuti kelas edukasi ASI saya meyadari keberhasilan ASI bukan semata tanggung jawab ibu namun juga dukungan suami, lanjut dia.

Konselor ASI AIMI Sumbar Maharani mengatakan agar berhasil menyusui calon ibu haru mencari atau menciptakan lingkungan yang akan mendukung pemberian ASI mulai dari suami, orang tua, mertua, keluarga besar, teman, hingga rekan kerja.

Jika ibu mengalami kendala dalam menyusui bayi maka orang terdekat akan memberi dukungan dan motivasi, ujarnya.

Selama ini yang terjadi jika ibu punya kendala akhirnya memilih untuk memberikan bayi susu formula, lanjutnya.

Ke depan, AIMI Sumbar akan menggelar kelas reguler edukasi untuk memberikan pemahaman yang utuh seputar ASI ekslusif.

Meski pun tidak dibayar, mereka bertekad kampanye ASI untuk menyelamatkan generasi tidak boleh terhenti demi lahirnya anak-anak bangsa yang sehat dan cerdas.

Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy Saat menghadiri Seminar Nasional Pendidikan Keluarga di Surakarta mengungkapkan,pentingnya keluarga untuk mempersiapkan fase seribu hari pertama kehidupan bagi anak.

“Itu sangat mendasar bagi kecerdasan anak ke depan, mempengaruhi bagi prestasi siswa di kelas,” tegas Menteri Muhadjir.

Ada gejala umum, lanjut Menteri Muhadjir, bahwa dari tampilan fisik bagus, tapi secara kemampuan otak sangat kurang.

“Untuk itu, kemampuan anak untuk belajar dan memahami pelajaran sangatlah dipengaruhi periode seribu hari pertama kehidupan si anak,” himbau Menteri Muhadjir.





Editor : M R Denya

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Atman Ahdiat
Semangat Pemerintah Daerah Sumatera Barat untuk memacu pertumbuhan di sektor pariwisata terpancar pada Forum Investasi Regional ...
Baca Juga