Minggu, 25 Juni 2017 - 31 Ramadhan 1438 H

Sejuta Perantau akan Dijamu dengan Keramahan dan Keindahan Sumbar

Desa Wisata Kubu Gadang, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)
Sebanyak satu juta orang perantau Minang diperkirakan mudik pada Lebaran 1438 Hijriah untuk bersilaturahim bersama keluarga dan menikmati objek wisata yang sedang menggeliat di kampung halaman.

Angka itu cukup fantastis, apalagi jika menilik kebiasaan perantau yang selalu membawa uang lebih saat pulang kampung. Setidaknya, menurut Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Provinsi Sumbar Heri Nofiardi, perantau akan menghabiskan Rp2 triliun selama di Sumbar.

Jumlah itu dengan asumsi satu perantau mengeluarkan Rp2 juta selama libur Lebaran 1438 Hijriah di Sumbar.

Pengeluaran itu di antaranya untuk konsumsi, zakat, kebutuhan sehari-hari, uang tanda untuk keluarga, serta untuk berwisata.

Jumlah itu bisa saja bertambah, karena saat Lebaran biasanya masing-masing daerah membuat kegiatan silaturahim dengan mengundang perantau. Pada saat itu akan disampaikan program pembangunan yang dibutuhkan masyarakat. Tentu saja, sumbangan perantau adalah hal yang paling diharapkan.

Namun pengeluaran terbesar perantau pada tahun ini diperkirakan untuk berwisata, karena daya tarik sektor itu di Sumbar memang menjadi primadona.

Beberapa objek seperti wisata pulau di Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Mandeh, dan Pariaman, wisata pantai di Padang dan wisata alam Lubuak Nyarai, Harau, Puncak Lawang, Fly Over Kelok Sembilan, mendapatkan promosi luar biasa, terutama di media sosial.

Demikian juga objek wisata lain yang telah lebih dahulu mendunia seperti Jam Gadang Bukittinggi, Istano Pagayung di Tanah Datar dan destinasi unggulan lainnya.

Hal itu, menurut Kepala Biro Kerja Sama dan Rantau Sekretariat Provinsi Sumbar Luhur Budianda SY, memancing minat perantau Minang untuk ikut datang dan menikmati wisata unggulan tersebut.

Pelaku usaha dan masyarakat yang berada dalam sektor ini akan mendapatkan keuntungan lebih dari hari biasa. Hotel penuh, tiket tempat wisata terjual habis, pusat kuliner diserbu pengunjung, penjual pernak pernik cenderamata raih untung demikian juga masyarakat sekitar objek wisata yang bisa memanfaatkan momen tersebut.

Maka kepulangan perantau itu, tidak lagi hanya sebagai pelepas rindu, tetapi berkah bagi masyarakat Ranah Minang karena mampu menggerakkan roda perekonomian.

Mengingat cukup besarnya peran perantau itu, Pemerintah Provinsi Sumbar bersama kabupaten dan kota tentu harus siap untuk memberikan pelayanan terbaik. Mulai dari perjalanan pulang mudik, hingga balik lagi ke perantauan.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengatakan sejumlah ruas jalan lintas Sumatera yang akan dilewati pemudik saat ini masih dalam kondisi rusak, namun sebagian sedang dalam perbaikan.

Ia meminta Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJ) Wilayah III yang berwenang terhadap jalan nasional di daerah itu untuk memperbaiki titik-titik terparah pada jalan yang akan dilewati pemudik pada Lebaran 2017.

Menurutnya, untuk memperbaiki langsung semua ruas jalan nasional yang rusak itu sepertinya memang tidak mungkin karena keterbatasan anggaran yang tersedia.

Namun, karena Jalan Lintas Sumatera itu memang banyak yang rusak parah sehingga tidak bisa terus dibiarkan, setidaknya, titik terparah harus diperbaiki agar sedikit lebih nyaman untuk dilewati oleh pemudik.

Salah seorang warga Dharmasraya, Didik (38) menyebutkan, sejumlah ruas Jalan Lintas Sumatera di daerah itu rusak parah sejak beberapa bulan terakhir.

Kerusakan itu di antaranya di Simpang Empat Sitiung, Simpang Empat Sikabau, di depan Terminal Angkutan Koto Baru, dan Sungai Betung, sepanjang jalan lintas dari Koto Baru hingga Sitiung.

Selain puluhan lubang, jalan pada titik tersebut juga bergelombang dan retak.

Selain di Dharmasraya, Jalan Lintas Sumatera pada beberapa daerah lain, seperti Sijunjung, Solok Selatan, dan Pesisir Selatan juga mengalami kerusakan.

Pemprov Sumbar juga menyiapkan 61 unit alat berat dan operatornya untuk mengantisipasi terjadinya longsor pada titik rawan sepanjang jalur mudik. Alat itu disiapkan seminggu sebelum dan seminggu sesudah Lebaran.

Sejumlah ruas jalan provinsi dan nasional di Sumbar ditengarai rawan longsor. Ruas jalan rawan longsor, di antaranya di Malibo Anai, Malalak, dan Lubuk Paraku, Bungus Teluk Kabung.

Selain alat berat milik PU Sumbar, peralatan milik kabupaten dan kota serta rekanan yang sedang bekerja juga diminta untuk siap membantu saat dibutuhkan.
Kenyamanan perantau saat menikmati destinasi wisata selama di Sumbar juga menjadi perhatian, karena biasanya saat lebaran banyak bertebaran parkir liar dengan tarif tinggi, pungli tiket lokasi wisata hingga tarif kuliner yang "mencekik".

Hal itu selain membuat citra daerah buruk, juga membuat perantau dan wisatawan menjadi tidak nyaman sehingga wisata Sumbar yang sedang menggeliat bangkit, bisa terancam gagal berkembang jika tidak disikapi dengan baik.

"Kami surati kabupaten dan kota untuk membuat tim pengawas agar hal tersebut tidak terjadi dan wisatawan merasakan kenyamanan selama di Sumbar," kata Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian, di Padang.

Menurutnya, tim pengawas tersebut nantinya juga diminta melengkapi persiapan dengan menyediakan nomor telepon pengaduan yang ditempel pada lokasi mencolok pada destinasi wisata di daerah ini.

Nomor pengaduan itu bisa dimanfaatkan oleh wisatawan yang merasa dirugikan, terkena pungutan liar atau merasa ditipu dengan harga kuliner yang tidak wajar dan "mencekik".

"Tim bisa merespon pengaduan itu dengan cepat dan mengambil langkah penindakan," kata dia.

Selain kabupaten dan kota, pemerintah provinsi, menurut Oni, juga akan membentuk empat tim pengawas yang siap bergerak pada libur lebaran tersebut, terutama pada destinasi yang diperkirakan banyak dikunjungi.

Tugas tim ini sama dengan tim kabupaten dan kota dan akan ada koordinasi antara keduanya, katanya pula.

Meski sudah ada antisipasi yang diambil, ia mengimbau masyarakat, pelaku usaha, dan pengelola objek wisata untuk memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan yang datang.

Kualitas pelayanan itu, menurutnya lagi, akan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk datang kembali ke objek wisata tersebut. Jika pelayanan buruk, kemungkinan mereka kembali makin kecil.

"Jangan hanya berpikir jangka pendek untuk mendapatkan untung besar, namun kemudian rugi. Berpikirlah jangka panjang agar semua lapisan masyarakat yang berada di sekitar objek wisata bisa mendapatkan manfaat terus menerus," kata dia.

Selain kenyamanan, keamanan juga menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan destinasi, karena itu dia mengingatkan agar pelaku usaha wisata dan instansi terkait harus proaktif. (*)


Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Miko Elfisha
          Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru saja menetapkan sistem pendidikan baru ...
Baca Juga